yofrokcrana

Jorge Salazar Salazar von Villentrois, Frankreich von Villentrois, Frankreich

Leser Jorge Salazar Salazar von Villentrois, Frankreich

Jorge Salazar Salazar von Villentrois, Frankreich

yofrokcrana

Sekiranya Allah SWT memberi kesempatan (amiin!), saya punya sembilan alasan untuk berharap melanjutkan kuliah di Inggris. Di antaranya adalah cerita-cerita Enid Blyton dan Agatha Christie yang menemani pengalaman berkhayal saya sejak bisa membaca. Alasan lain adalah ingin menonton bersama ayah saya salah satu big match Arsenal langsung di Stadion Highbury (yang tidak bakal kesampaian karena stadion itu sekarang sudah tidak ada lagi, hiks!). Oh iya, juga supaya suatu ketika bisa ketemu Robbie Fowler, hihihi... (khayalan seorang mantan Liverpudlian cilik yang sudah insyaf sejak Arsene Wenger membawa Robert Pires main di Arsenal :D). Karena berbagai alasan realistis dan pragmatis, saya sempat berpikir mau bersekolah di Belanda saja. Impian saya kalau ke Belanda bukan mau ketemu Dennis Bergkamp, sumpah! Tapi ingin sekali saja berkunjung ke museum Vincent van Gogh. Dan ternyata saya tidak sendiri. Begitu banyak anak Indonesia yang dengan naifnya juga mau menginjakkan kaki dengan dalih belajar di negeri kumpeni ini. Bisa karena gencarnya tawaran beasiswa, bisa juga akibat tawaran segala bentuk "kebebasan" yang dikumandangkan di sana. Kebebasan nyimeng, kebebasan tidak beragama, kebebasan keluyuran di distrik "lampu merah", dan lain2 yang sayup2 terdengar sampai ke tanah air kita. Nah, buku Negeri van Oranje ini membawa kita pada beragam motivasi anak bangsa yang diwakili oleh Wicak, Daus, Banjar, Geri dan Lintang untuk bersekolah pascasarjana di negeri bekas penjajah nusantara itu. Mereka bertemu pertama kali secara kebetulan di stasiun kereta Amersfort saat perjalanan tertunda akibat badai. Iya, di sini cerita mulai terasa komedik, karena kok ya ada orang yang terancam dibunuh mafia kayu, orang yang patah hati, dan orang yang mau cari muka pada calon ipar bisa sama-sama ketemu saat kuliah di Belanda, dipersatukan gara-gara rokok kretek pula! Lalu kelima jagoan kita itu, akhirnya, walau tinggal dan berkuliah di kota yang berbeda, kemudian bisa-bisanya bersahabat atas dasar persamaan nasib anak rantau di negeri orang. Benang merah cerita buku ini cukup klise sebenarnya, persahabatan yang dibumbui perebutan cinta. Wicak, Banjar dan Daus terlibat dalam persaingan memperebutkan perhatian Lintang, sedangkan Lintang sendiri sedikit demi sedikit menjatuhkan hatinya pada Geri. Hmmm... Sangat teenlit sekali, walau tokoh2nya sudah lewat usia remaja. Bagian penutupnya pun walau membuat pembaca harus menebak-nebak, pastinya berakhir bahagia. Tapi bagusnya buku ini, latar belakang cerita dijaga untuk tetap di koridor yang begitu lurus. Tetap berbau "akademik" lah, hingga bisa menyelamatkan buku ini dari embel2 "metropop". Mungkin juga karena tokoh-tokoh jagoan kita diciptakan sebagai mahasiswa "baik-baik" semua, baik saat di tanah air maupun ketika menjelajah tanah kumpeni. Saya suka bagian saat nasionalisme para mahasiswa ini untuk mengabdi kembali di tanah air seusai studi dihadapkan pada pilihan kemungkinan menambang euro di benua orang. Pada akhirnya memang pilihan tiap orang akan sangat personal dan tidak layak untuk dinilai hitam-putih. Beragam kiat hidup di negeri orang yang muncul begitu saja di sela2 cerita, tak pelak memperjelas niat buku ini yang tersirat, yaitu sebagai panduan sekolah dan jalan2 di Eropa. Tidak heran kalau buku ini sampai dipromosikan oleh lembaga penyedia beasiswa Belanda. Nah, setelah niat buku ini ketahuan (ups!) maka bagi mereka yang pernah kuliah di Belanda, tak pelak buku ini pasti berhasil menarik kumpulan nostalgia dan emosi; tawa dan airmata; hal-hal konyol maupun penuh kejayaan (kamu akan tahu rasanya jika pernah mengalaminya :p). Bagi mereka yang masih sangat berniat untuk kuliah di Belanda, buku ini pun akan menambah motivasi ke titik tertinggi, menawarkan petualangan untuk dijalani dan beragam ranah untuk ditaklukkan. Atau buat mereka yang berniat suatu ketika hanya sekedar akan jalan-jalan di Belanda atau Eropa, buku ini pun cukup direkomendasikan, mengingat begitu detil rute perjalanan kelima sekawan jagoan buku ini dipaparkan, plus sejarah beberapa lokasi wisata populer. Sayangnya, buat pembaca yang sudah memasuki masa tenang tanpa pernah ke Belanda (seperti saya), buku ini agak melelahkan. Pilihan frasa yang cocok buat hal ini mungkin karena ada "pengkhianatan catatan kaki". Bukannya tidak sah jika sebuah novel/ karya fiksi mencantumkan catatan kaki, tapi aneh sekali rasanya jika dengan berulang-ulang, bagian di halaman buku bagian bawah itu bukan menampilkan informasi tambahan, tapi justru untuk membuat plot sempalan. Atau untuk memberi tahu pembaca bahwa kita dipersilakan nyengir. Bagaimana pun, buku yang alur dan diksinya berasal dari empat kepala ini terasa lancar bercerita karena memilih penulisan lewat sudut pandang orang ketiga. Tidak ada narasi ber-"aku-aku" yang bisa tidak adil bagi sudut tertentu. Tetap saja, sebagai pembaca yang juga orang ketiga saya merasa terlalu banyak pesan titipan. Misalnya aneka tips dan trik. Tidak jelek kalau tips dan trik bagi kehidupan nyata dikaitkan dengan pengalaman tokoh rekaan. Namun akan lebih baik, misalnya, boks tips mencari sepeda tidak muncul sekonyong-konyong di tengah lajunya goesan pedal seorang tokoh cerita menuju ke kampusnya. Kasihan kan, boksnya ditabrak begitu...

yofrokcrana

I've read the book a couple of times, but not since middle school, so I decided to re-read before watching the movie. Less than a day later, I finished it. Still a great book; somewhat disturbing on many levels, but great.